
Sering Lemas Saat Puasa? Dokter Tirta Sarankan Tidur Siang
Sering Lemas Saat Puasa merupakan hal yang cukup umum terjadi, terutama pada siang hingga sore hari. Perubahan pola makan, jam tidur yang bergeser, serta aktivitas harian yang tetap padat membuat tubuh perlu beradaptasi. Dalam situasi ini, Dokter Tirta menyarankan tidur siang sebagai salah satu cara sederhana untuk menjaga energi tetap stabil selama berpuasa. Anjuran tersebut bukan tanpa alasan. Dari sisi medis, istirahat singkat di siang hari dapat membantu tubuh memulihkan stamina tanpa mengganggu ibadah puasa itu sendiri. Lalu, bagaimana penjelasan lengkapnya?
Mengapa Tubuh Sering Lemas Saat Puasa?
Saat berpuasa, tubuh tidak mendapatkan asupan makanan dan minuman selama kurang lebih 12–14 jam. Cadangan energi yang berasal dari glukosa akan digunakan secara bertahap. Jika tidak dikelola dengan baik saat sahur dan berbuka, kondisi ini bisa memicu rasa lelah, mengantuk, bahkan sulit berkonsentrasi.
Beberapa penyebab utama tubuh terasa lemas saat puasa antara lain:
- Kurang tidur akibat bangun sahur terlalu malam.
- Asupan nutrisi yang tidak seimbang saat sahur.
- Dehidrasi ringan karena kurang minum saat malam hari.
- Aktivitas fisik berlebihan tanpa istirahat cukup.
Karena itu, manajemen energi menjadi kunci agar puasa tetap lancar dan produktivitas terjaga.
Penjelasan Dokter Tirta tentang Manfaat Tidur Siang
Menurut Dokter Tirta, tidur siang singkat atau power nap bisa membantu tubuh melakukan “reset” energi. Istirahat sekitar 15–30 menit sudah cukup untuk meningkatkan fokus dan mengurangi rasa kantuk.
Secara medis, tidur siang memiliki beberapa manfaat, seperti:
- Memulihkan energi
Otak dan tubuh mendapatkan waktu untuk beristirahat sehingga rasa lelah berkurang. - Meningkatkan konsentrasi
Setelah tidur singkat, kemampuan berpikir dan fokus biasanya lebih baik. - Menjaga suasana hati
Kurang tidur dapat memicu emosi tidak stabil. Power nap membantu memperbaiki mood. - Mengurangi stres
Istirahat sejenak dapat menurunkan ketegangan akibat aktivitas harian.
Namun, durasi tidur siang tetap perlu diperhatikan. Tidur terlalu lama justru bisa membuat tubuh terasa lebih lemas atau pusing setelah bangun.
Waktu Ideal untuk Tidur Siang Saat Puasa
Tidur siang paling ideal dilakukan pada pukul 12.00–14.00. Pada jam tersebut, tubuh secara alami mengalami penurunan energi. Jika memiliki waktu istirahat kantor atau jeda aktivitas, manfaatkan momen itu untuk tidur sejenak.
Pastikan juga:
- Tidak tidur lebih dari 30 menit.
- Mengatur alarm agar tidak kebablasan.
- Memilih tempat yang nyaman dan tenang.
Dengan cara ini, tidur siang tidak akan mengganggu waktu ibadah maupun aktivitas sore menjelang berbuka.
Tetap Perhatikan Pola Sahur dan Berbuka
Meski tidur siang membantu, pola makan tetap memegang peran penting. Dokter Tirta juga sering mengingatkan pentingnya konsumsi makanan bergizi seimbang saat sahur dan berbuka.
Beberapa tips yang bisa di terapkan:
- Konsumsi karbohidrat kompleks seperti nasi merah atau oatmeal.
- Tambahkan protein dari telur, ayam, atau kacang-kacangan.
- Perbanyak sayur dan buah untuk asupan serat dan vitamin.
- Cukupi kebutuhan cairan minimal 8 gelas per hari (di bagi antara berbuka dan sahur).
Kombinasi pola makan sehat dan istirahat cukup akan membantu tubuh tetap bertenaga sepanjang hari.
Produktif Saat Puasa dengan Manajemen Energi
Puasa bukan alasan untuk menurunkan produktivitas. Justru dengan manajemen energi yang tepat, aktivitas tetap bisa berjalan optimal. Tidur siang menjadi salah satu strategi sederhana yang efektif dan mudah diterapkan. Mendengarkan sinyal tubuh juga penting. Maka jika mulai merasa sangat lelah, jangan memaksakan diri. Istirahat sejenak bisa jauh lebih bermanfaat daripada terus bekerja dalam kondisi tidak fokus.
Kesimpulan
Sering lemas saat puasa merupakan kondisi yang wajar, terutama di awal Ramadhan. Namun, hal tersebut dapat diatasi dengan langkah sederhana seperti tidur siang singkat. Maka anjuran dari Dokter Tirta menegaskan bahwa power nap dapat membantu memulihkan energi, meningkatkan konsentrasi, dan menjaga suasana hati.